Pages

Subscribe:

Kamis, 26 September 2013

Rumah Mungil yang Lapang, Cocok untuk Pasangan Muda


Rumah yang digarap oleh Atsushi Kawamoto dan Mayumi Kawamoto ini berada di Kota Yaizu, Shizuoka, Jepang. Struktur terbuat dari kayu mampu membentuk bangunan dengan luas total 82,55m2. 65,99m2-nya berada di lantai dasar, sementara lantai selanjutnya hanya berukuran 16,56m2. Karena sebenarnya, paviliun ini hanya bagian kecil dalam lahan berukuran besar, yaitu 778,38m2.
Jakarta- Perusahaan arsitektur asal Tokyo, mA-style Architechts membuat ekstensi pada salah satu tempat tinggal di area rural Jepang. Bangunan ekstensi tersebut menjadi semacam paviliun, rumah terpisah dalam lingkungan yang sama dengan rumah utama dan ditujukan bagi pasangan muda.

Uniknya, paviliun terpisah ini tidak memiliki dapur, kamar mandi, dan ruang hiburan. Semua fitur tersebut tergabung dalam rumah utama. Paviliun hanya berfungsi sebagai tempat tidur, beristirahat, atau menghabiskan waktu tenang.

Rumah yang digarap oleh Atsushi Kawamoto dan Mayumi Kawamoto ini berada di Kota Yaizu, Shizuoka, Jepang. Struktur terbuat dari kayu mampu membentuk bangunan dengan luas total 82,55m2. 65,99m2-nya berada di lantai dasar, sementara lantai selanjutnya hanya berukuran 16,56m2. Karena sebenarnya, paviliun ini hanya bagian kecil dalam lahan berukuran besar, yaitu 778,38m2.

Kayu menjadi karakter terkuat dalam rumah ini. Kayu cedar Jepang digunakan untuk menutupi sebagian lantai dan seluruh bagian plafon. Perpaduan antara aksen kayu dan warna putih membuat ekstensi ini semakin terasa lapang, terang, dan jauh dari kesan rumit.

Desainnya juga tidak rumit. Beberapa fitur yang tersedia di dalam rumah ini juga layak disimak. Misalnya, plafon yang membentuk sekat-sekat mengikuti bentuk atap, tangga sederhana menempel pada dinding, serta adanya lantai kedua berukuran mungil. Lantai kedua ini memungkinkan pasangan yang menempatinya melihat ke lantai bawah dengan mudah.

Selain itu, ada lagi fitur penting dalam bangunan ini, yaitu akses ke rumah utama. Paviliun ini memang terpisah dengan rumah utama, namun masih ada akses di antara kedua bangunan. Untuk sebuah keluarga besar, hal tersebut penting untuk menjaga privasi, sementara di sisi lain tetap bisa mempertahankan keakraban dalam keluarga.

Adapun jalur penghubung yang ada di sisi barat bangunan dan menghubungkan antara rumah utama dan paviliun dihiasi dengan taman. Keberadaan taman menjadi sarana bagi pasangan muda yang menempati tempat ini untuk mempersiapkan mental bertukar tempat dari ruang pribadi ke ruang keluarga besar.

Buat Rumah Anda Serupa Konstelasi Bintang!


Khusus untuk dinding unik di luar rumah ini, ia melubangi papan fiber-cement dengan laser. Tak hanya itu. Levitt kemudian memasang lampu-lampu LED di belakang permukaan setebal 10cm.
Jakarta- Rumah yang ada di Toronto, Ontario, Kanada, ini digarap oleh LGA Architectural Partners. Arsitek Janna Levitt memberikan beberapa sentuhan kreatif pada rumah tinggal seluas 929m2 yang diperuntukkan bagi sebuah keluarga kecil tersebut.

Salah satu hasil karyanya yang layak disimak adalah bintang-bintang di permukaan luar rumah ini. Ketika matahari terbenam, bintang-bintang tidak hanya bersinar di langit, namun juga di bagian luar rumah ini. Lubang-lubang berbentuk konstelasi Sagittarius dan Scorpio memenuhi salah satu dinding di luar rumah tersebut.

"Fokusnya ada di luar ruangan," kata Levitt mengenai konstelasi tersebut.

Levitt bekerja sama dengan lanskap arsitek Scott Torrance untuk menciptakan ruangan-ruangan taman. Khusus untuk dinding unik di luar rumah ini, ia melubangi papan fiber-cement dengan laser.

Tak hanya itu. Levitt kemudian memasang lampu-lampu LED di belakang permukaan setebal 10cm. Ketika menikmati sore hari di halaman bersama tanaman-tanaman berspesies lokal, keluarga pemilik rumah ini dapat menikmati komposisi berpendar di permukaan luar rumah mereka.

Karya penghormatan

Janna Levitt merupakan salah satu arsitek yang begitu menghormati Le Corbusier atas hasil karyanya. Buktinya, desain konstelasi ini, seperti dikutip dalam Dwell.com merupakan penghormatan pada hasil karya Le Corbusier, Orion. Karya tersebut berada di sebuah gereja di Prancis, Saint-Pierre de Firminy.

Menurut situs resmi LGA Architectural Partners, LGA yang sudah menawarkan jasanya sejak 1989 ini tidak hanya membangun gedung-gedung berkualitas tinggi. Bagi perusahaan tersebut, setiap proyek adalah hal unik yang membutuhkan solusi seunik karakternya.

"Kami tahu bahwa bangunan adalah bagian dari citra yang lebih besar, secara sosial, lingkungan, dan budaya. Kami juga bertujuan untuk membuat setiao desain progresif, sensitif, dan relevan. Kami menggunakan material hemat energi dan biaya dalam cara yang inventif untuk mencapai hasil, yang tidak hanya berorientasi desain, namun juga berkelanjutan," tulis LGA.

Tampaknya, pernyataan perusahaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam rumah di Kanada. Rumah yang bernama "Don River House" tersebut rampung pada Juni 2012 lalu.

Aksesori Tradisional, Cermin Asal Usul Anda


Ito Kish meluncurkan Balustan Collection dengan beragam bentuk serta fungsinya, mulai untuk kursi, lemari penyimpan, serta cocok dijadikan pembatas ruang dan pengatur sirkulasi udara ke dalam rumah. Tak hanya itu. Koleksi ini termasuk juga untuk lemari buku serta wadah lilin unik.
KOMPAS.com — Salah satu konsultan desain terkemuka di Filipina, Ito Kish, baru saja meluncurkan Balustan Collection, koleksi desain terbarunya di pameran Maison et Objet 2013 di Paris, Perancis. Produk aksesori terbaru ini terinspirasi model langkan vintage Filipina untuk bermacam kegunaan di rumah.

Ito Kish meluncurkan Balustan Collection dengan beragam bentuk serta fungsinya, mulai untuk kursi, lemari penyimpan, serta cocok dijadikan pembatas ruang dan pengatur sirkulasi udara ke dalam rumah. Tak hanya itu, koleksi ini termasuk juga untuk lemari buku serta wadah lilin unik.

Dengan detail dekorasi unik dari kayu hasil kerajinan tangan khas Asia, Ito Kish menafsirkan produk barunya ini sebagai furnitur bergaya modern.

"Desain ini akan selalu mengingatkan siapa saya dan dari mana saya berasal," ujar Ito Kish.

Korea Selatan Bakal Punya Pencakar Langit Tembus Pandang Pertama di Dunia


GDS Architects
Korea bakal memiliki pencakar langit baru, tidak sekadar tinggi, melainkan diselimuti teknologi canggih.
KOMPAS.com — "Pertempuran" pencakar langit makin seru. Setelah Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan China berlomba membangun gedung-gedung tinggi, kini giliran Korea Selatan.

Negeri ini memasuki gelanggang pertempuran melalui menara tembus pandang bertajuk The Infinity Tower yang dikembangkan oleh Korea Land and Housing Corporation. Berbeda dengan pencakar langit lainnya yang unggul dalam hal ketinggian, The Infinity Tower justru menawarkan pembaruan yang sarat pemanfaatan teknologi canggih.

Meski tidak dimaksudkan sebagai gedung tertinggi, tetapi menara tembus pandang ini bakal  menjadi menara tertinggi keenam di dunia. The Infinity Tower berada di belakang Tokyo Skytree, Canton Tower di Guangzhou, CN Tower di Toronto, Ostankino Tower di Moskwa, dan Shanghai Oriental Pearl di Shanghai.

Konstruksi gedung yang dirancang GDS Architects ini sudah dimulai dan dijadwalkan rampung pada 2014 mendatang. Dengan demikian, Korea Selatan akan tercatat sebagai salah satu negara penyumbang pencakar langit paling unik di dunia.

The Infinity Tower menggunakan kaca bening sebagai material dominan. Tak hanya itu, fitur paling dramatis yang akan terdapat pada gedung ini adalah ilusi optik yang ditimbulkan dari hasil kerja 18 kamera tahan air. Ratusan layar LED yang menyelimuti fasad bangunan akan menampilkan gambar secara real time ke permukaan reflektif bangunan.

Kamera akan ditempatkan di tiga ketinggian berbeda pada enam sisi bangunan yang berbeda pula untuk menangkap gambar real-time di sekitarnya. Sementara di tiga bagian gedung lainnya, masing-masing diisi 500 baris layar LED, yang memproyeksikan gambar digital secara individual.

Melalui pengolahan digital, gambar-gambar yang dihasilkan 18 kamera tersebut akan digabungkan menjadi sebuah panorama yang muncul pada baris LED untuk menciptakan ilusi tembus pandang. Prinsipnya, apa pun yang terjadi di belakang bangunan akan diproyeksikan ke depan gedung.


Adapun luas bangunan menara tembus pandang ini mencapai 110.425 meter persegi. Fungsi properti yang terdapat di dalamnya mencakup taman hiburan, restoran, bioskop, roller coaster, sebuah taman air dalam ruang, ruang ritel, museum, fasilitas olahraga, dan tiga dek observasi yang berada di ketinggian 329 meter. Fungsi perkantoran dan hunian justru ditiadakan.

Menurut perancang utama GDS Architects, Charles Wee, publik sudah terlalu sering disuguhi frase landmark tower sebagai identitas kota. Hal ini merupakan keinginan, atau lebih tepatnya ego, untuk memperlihatkan tingkat kemakmuran ekonomi dan prestasi teknologi.

"Hati, pikiran, dan motivasi kita dirancang untuk mewakili kekuatan ketiadaan dan nihilisme," ujar Charles mengutip Louis Kahn.


The Infinity Tower berada tak jauh dari Bandar Udara Internasional Incheon. Agar tidak mengganggu penerbangan komersial, perancangnya memasang
flashing warning lights
flashing warning lights untuk memperingatkan pilot. Selain pesawat, burung juga dapat melihat menara ini.

Bak Lekuk Tubuh Wanita, Cuma yang Berduit Bisa Beli Kursi Goyang Ini!


Disebut unik, karena kursi goyang tersebut bisa dibuat berdiri ketika tidak sedang digunakan. Menurut www.designboom.com, beberapa orang yang melihat kursi goyang tersebut segera mengasosiasikan kursi ini seperti tubuh wanita.
KOMPAS.com - Seperti biasanya, Splinter Works kembali memperkenalkan furnitur dengan bentuk yang tidak biasa, namun tetap fungsional. Setelah membuat bathtub berbentuk menyerupai hammock, kini perusahaan tersebut menawarkan kursi goyang unik bernama Bodice Rocker.

Disebut unik, karena kursi goyang tersebut bisa dibuat berdiri ketika tidak sedang digunakan. Menurut www.designboom.com, beberapa orang yang melihat kursi goyang tersebut segera mengasosiasikan kursi ini seperti tubuh wanita. Ada juga yang merasa bentuk kursi ini seperti bentuk kaki jenjang.

Namun, seperti apapun komentar orang yang melihatnya, Splinter Works dalam situs resminya justeru berkomentar seperti ini, "Lahir dari kecintaan terhadap siluet lekukan dan ilusi, Bodice Rocker merupakan barang unik yang menawarkan beberapa perspektif segar".

Apa yang disampaikan Splinter Works tampaknya memang tidak salah. Setiap orang yang melihat dan menggunakan kursi goyang ini "dipaksa" untuk menerjemahkan sendiri makna lekukannya. Jika tidak berhasil menemukan makna lekukannya, paling tidak dapat merasakan kenyamanan yang ditawarkan oleh kursi dari kulit lembu ini.

Menurut situs tersebut, kursi goyang ini mampu bergerak dengan lembut ke arah belakang pengguna dan berhenti setengah jalan untuk kembali "menimang" penggunanya, seolah menentang grafitasi. Semua itu hanya demi kenyamanan penggunanya.

Kursi goyang ini sebenarnya memiliki dimensi 190cm x 70cm x 95cm. Namun, sama seperti kreasi lain buatan Splinter Works, Bodice Rocker dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan pengguna. Hanya, jika Anda ingin memiliki kursi istimewa ini, Anda butuh merogoh kocek dalam-dalam.

Splinter Works memang tidak merilis harga resmi kursi tersebut. Namun, seperti disebut di situs www.dudeiwantthat.com, bahwa hanya miliarder yang akan mampu membeli kursi ini.

Nah, Anda salah satunya yang akan membeli?

Minggu, 22 September 2013

Membagi Ruang Tak Harus dengan Partisi


Karpet berukuran besar, atau yang sering disebut dengan "area rugs" dapat menyatukan sekumpulan furnitur.
KOMPAS.com - Karpet berukuran besar, atau yang sering disebut dengan "area rugs" dapat menyatukan sekumpulan furnitur. Karpet jenis ini menjadi "pembagi" yang ideal dalam ruangan berkonsep terbuka. Karpet tidak akan memblokade ruangan secara visual.

Agar konsep terbuka itu terwujud, pilihlah karpet yang sesuai dengan kesatuan desain. Perhatikan betul-betul tujuan mendekorasi ruangan agar terpilih karpet dengan jenis, warna, tekstur, dan ukuran yang tepat.

Berikut ini beberapa tips untuk memilih "area rugs" yang selaras di rumah Anda.

Pertama, jika ruangan yang ingin "dibagi" oleh "area rugs" berukuran cukup besar, tentu Anda membutuhkan beberapa karpet. Melihat gambaran yang lebih besar dan menimbang bagaimana karpet-karpet tersebut dapat tampil selaras di dalam satu ruangan secara bersamaan, penting dalam mendekor ruangan seperti ini. Solusi termudah adalah memilih karpet-karpet serupa.

Karpet-karpet dengan warna, corak, dan material serupa dalam satu ruangan, menciptakan pemisahan beberapa area, namun tetap menjaga keselarasan dalam ruangan tersebut. Gunakan solusi ini untuk membagi ruangan besar namun dengan area-area terpisah yang memiliki fungsi serupa. Misalnya, ruang tamu yang tergabung dengan ruang keluarga. Ruangan besar tersebut secara garis besar memiliki fungsi yang sama. Memiliki beberapa area duduk dapat dibuat dengan memanfaatkan dua hingga tiga "area rugs" yang masing-masing berfungsi untuk membuat "kumpulan furnitur" tersendiri.

Cara kedua, sebaliknya. Gunakan beberapa "area rugs" yang memiliki karakter cukup jauh berbeda. Cara ini tepat digunakan untuk membagi dua area yang memiliki fungsi berbeda. Misalnya, untuk memisahkan area ruang makan dan ruang keluarga. Agar karpet-karpet tersebut dapat tampil dengan serasi, pastikan Anda menggunakan nuansa warna yang sama.

Anda bisa memilih karpet dengan berbagai corak. Namun, jauh lebih mudah menggunakan karpet tanpa corak. Dengan cara ini, Anda hanya perlu memilih dua warna yang tampil serasi. Usahakan memilih warna netral untuk salah satu karpet. Penggunaan warna netral juga memungkinkan Anda menggunakan beberapa karpet dengan material berbeda.

Selain karpet tanpa corak, karpet dengan corak bernuansa Oriental juga relatif mudah "dipasangkan" dengan karpet lain. Alasannya sederhana, umumnya karpet bercorak Oriental menggunakan nuansa warna yang tidak jauh berbeda dan coraknya pun begitu mendetil hingga antara satu karpet dengan karpet lainnya tidak tampak saling "tabrak".

DEMI SEPIRING NASI UDUK


DEMI SEPIRING NASI UDUKMenetralisir Kelemahan Dengan Menciptakan Benefit



www.JinProperti.com - Suatu ketika di sebuah periode long week end, saya kesulitan mendapatkan hotel di kota Yogya. Bersyukur akhirnya mendapatkan kamar di sebuah hotel kecil yang letaknya masuk dalam ke sebuah gang di daerah Gejayan.

Kamar ukuran 3x3 ditambah KM/WC, semua perabot dari kayu model lama, dan TV kecil 14 inchi yang gambarnya buram. AC nya berwarna kusam, tapi udaranya masih dingin. Tarifnya Rp 220.000,- per malam. Hmm, mahal sekali, begitu saya berpikir. Karena saya pernah menginap kamar hotel bertarif Rp 270.000,- per malam sudah bagus sekali.

Yang menyebalkan, tak ada stop kontak sama sekali. Satu-satunya stop kontak yang ada terpakai untuk TV. Jadi ketika saya mau mengisi baterai HP, terpaksa TV saya matikan.

Ini hotel payah sekali. Rasanya tak mungkin saya mau balik lagi kesini suatu saat nanti. Lebih baik tidur di SPBU, kata saya didalam hati.

Esok paginya, saya menikmati sarapan di hotel itu. Wow, menunya asyik. Teh kopi pasti tersedia. Ada bubur kacang hijau dan santan yang panas dan enak. Yang istimewa, ada hidangan nasi uduk super gurih dengan lauk-pauk lengkap mengundang selera. Ada kering tempe, abon, telur, daging cacah, ayam goreng, perkedel, krupuk udang. Semuanya maknyus. Sarapan yang luar biasa lezat dan maknyus.

Saya jadi lupa dengan keluhan semalam tentang hotel itu. Hal-hal yang kurang mengesankan didalam kamar terhapus dengan sarapan paginya yang enak dan mengenyangkan perut. Nadar saya tak mau kembali ke hotel itu sepertinya saya ralat. Penilaian bahwa hotel itu payah, berubah menjadi lumayan. Masih mau deh kembali ke hotel itu suatu saat nanti demi sepiring nasi uduknya yang lezat.

Sobat properti, sebuah kekurangan atau nilai negatif (handicap) di proyek properti yang kita kembangkan bukanlah alasan untuk tidak mampu bersaing. Karena sebuah kekurangan di satu aspek, akan bisa dinetralisir dengan menyodorkan keunggulan dan benefit di aspek lainnya. Jika semua yang kita berikan terasa kurang di mata konsumen, maka mereka akan pergi dan berpaling. Tapi jika diantara beberapa kekurangan ternyata kita masih memiliki kelebihan yang memberikan benefit kepada konsumen, maka di mata konsumen kita masih memiliki value positif.

Mungkin proyek anda dekat kuburan, mungkin dekat SUTET (jaringan tegangan tinggi), mungkin dekat TPS (tempat pembuangan sampah), mungkin jalan masuknya sempit. Itu semua memberikan nilai negatif di benak konsumen. Kondisi eksisting yang ada dan sulit diubah karena diluar kemampuan kita, bukan berarti harus membuat kita menyerah.

Ciptakanlah keunggulan. Berikan benefit. Buatlah konsumen lupa atau tak lagi memperhitungkan hal-hal yang negatif.

Jika konsumen punya rumah dekat kuburan, tapi batas antara kuburan dan lahan perumahan sudah dibatasi pagar tinggi, dan didalam komplek perumahan anda dibangun sekolah internasional, saya yakin konsumen mengabaikan kuburan dan lebih berpikir dari sisi manfaat bahwa anak mereka bisa bersekolah dan mendapatkan mutu pendidikan yang tinggi.

Jika di proyek anda dilintasi jaringan SUTET yang mengandung radiasi, tapi anda tidak membangun rumah-rumah dibawah SUTET, dan justru membangun berbagai fasilitas umum dibawah SUTET, misal; lapangan futsal, lapangan volley, playground, dll, maka saya yakin konsumen akan lupa bahwa diatasnya ada kabel tegangan tinggi, dan lebih memandang area itu sebagai fasilitas yang bisa dinikmati.

Jika lokasi perumahan anda agak ditepi kota dan jauh dari keramaian, buatlah pangkalan ojek dan fasilitasi para pengojek supaya bersedia mangkal disitu dengan subsidi dari pengembang, sehingga warga atau penghuni tak merasa kesulitan dalam hal transportasi. Bukalah beberapa warung kelontong dengan menyediakan barang-barang kebutuhan pokok sehingga warga tak merasa kesulitan belanja kebutuhan sehari-hari.

Kesimpulannya; semua hal yang minus dan negatif di proyek kita tak harus disikapi dengan sikap pasrah dan menjual alasan jika tak mau memasarkannya. Tapi bagaimana kita mengatasi itu dengan menciptakan benefit yang dirasakan manfaatnya oleh konsumen.

Seperti kisah saya diatas yang merasa tak nyaman dengan kamar hotel, tapi menjadi netral dengan hidangan sarapan nasi uduknya yang lezat.